Motivasi: Peluang di Balik Peluang

Motivasi

Peluang di Balik Peluang

Di balik kesulitan ada kemudahan, sedangkan di balik kemudahan—mungkin saja—ada kesulitan atau kemudahan yang lain

Cerita tentang krisis yang melahirkan peluang baru sudah sering kita dengar. Mereka yang sukses di tengah krisis adalah mereka yang percaya bahwa dalam situasi sulit ada lompatan yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan orang lain. Mereka punya cara berpikir sendiri, di balik kesulitan ada kemudahan.
Jika bisnis terasa berat untuk tumbuh, mungkin saja Anda tengah mendaki menuju puncak kesuksesan. Sebaliknya, jika jalannya terasa ringan, berhati-hatilah. Siapa tahu di depan ada jurang!
Ada pula orang yang melihat bahwa di balik kemudahan ada kemudahan baru. Tatkala ada tren bisnis tertentu, yang hanya dinikmati masyarakat kelas tertentu, akan muncul orang yang mampu mengikuti perubahan dan memanfaatkannya, meskipun bukan termasuk kelas tertentu tersebut.
Tahun 1800-an, di California, Amerika Serikat, banyak orang yang ingin masuk ke bisnis tambang emas karena potensinya sangat menjanjikan. Waktu itu banyak konglomerat, orang-orang pintar, dan pejabat yang menginvestasikan uangnya di bisnis tambang emas. Bisnis tambang emas sangat booming. Di banyak tempat, orang akan memilih berbisnis tambang emas jika ingin meraih potensi besar. Hanya saja, bisnis tambang emas hanya untuk mereka yang punya keahlian, modal, atau mereka yang punya kenalan bermodal.
Sebagaimana bisnis pada umumnya, tidak semua orang dapat meraih sukses di bisnis tambang emas. Sekitar 90% pebisnis gagal di 5 tahun pertama. Sementara 5 tahun berikutnya, 90% yang tersisa juga mengalami kegagalan. Namun, hal tak terduga terjadi pada Sam Brannan, yang saat itu menjadi milioner pertama di California meskipun bukan penambang emas.
Sam orang biasa dan bukan bukan orang kaya, yang menjual sekop dan alat-alat pertambangan emas. Usaha itu laku keras. Di era yang hampir bersamaan, Levi Strauss mencoba peruntungan dengan menjual tenda ke para penambang emas. Sayangnya, ia kurang berhasil sudah banyak yang menjual tenda.
Levi Strauss tidak kehilangan akal. Ia percaya pasti ada peluang lain di tengah “kerumunan” penambang emas. Keahlian Levi dalam menjahit mendorongnya mencoba membuat celana yang nyaman dan tahan lama untuk dipakai para penambang emas. Rupanya, di sinilah kran rejeki Levi Strauss yang mulai mengalir deras.
Akhirnya, Levi menjadi milioner juga dalam era pertambangan emas karena menjual banyak celana jeans ke para penambang emas saat itu. Tak hanya itu, celana jeans bermerk Levi’s itu kemudian berkembang menjadi celana untuk semua orang di mana pun di dunia. Bisnisnya berkilau melebihi kilau bisnis tambang emas.
Nah, pertanyaan yang kerap muncul, bagaimana mereka bisa sukses menangkap peluang? Mengapa mereka bisa terus optimis di masa apapun, sedangkan ada yang tetap mengeluh meskipun situasi ekonomi semakin baik?
Jennie S. Bev, seorang penulis Indonesia yang tinggal di AS, mengatakan bahwa hal penting yang harus diperhatikan bagi mereka yang ingin sukses dalam situasi apapun adalah mindset sukses. “Success is a mindset. It is not a journey, nor a destination. It is already within you,” katanya. Jadi, sukses itu mindset, bukan perjalanan, bukan tujuan. Sukses itu sudah ada di dalam diri kita, tinggal dibangunkan dari tidurnya
Menurut American Heritage Dictionary, mindset adalah keyakinan teguh yang menjadi dasar bagi respons-respons dan interpretasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap sesuatu kejadian. Terhadap kejadian yang sama, seseorang ber-mindset sukses mempunyai respons dan interpretasi yang berbeda dengan seseorang yang ber-mindset pecundang.
Contoh mudahnya, jika seseorang mengalami kesusahan hidup, seorang sukses selalu melihat kesulitan sebagai guru yang baik, karena ia bisa belajar bagaimana mengatasi kesusahan di masa depan. Sebaliknya, seorang pecundang akan menjadikan kesulitan hidup sebagai alasan mengapa ia bernasib malang seperti sekarang.” Ia kan mencari kambing hitam untuk menjelaskan mengapa ia mengalami kegagalan hidup dan hidupnya penuh kemalangan seperti sekarang.
Levi Strauss tidak mampu menjadi investor tambang emas karena tidak memiliki modal. Namun, ia terus mencari cara agar bisa ikut bergerak meraih pendapatan besar seiring dengan booming-nya usaha tambang emas. Ia memiliki mindset sukses sehingga tidak mencari-cari alasan bahwa orang biasa tak mungkin bisa menikmati dampak booming-nya tambang emas. ***

Sumber : Buku MENGGALI BERLIAN DI KEBUN SENDIRI -Bambang Suharno

Harga buku : Rp. 90.000 belum termasuk ongkir.

Pesan buku Hubungi:

Wawan : 0856 8800 752
Aris : 0856 1555 433
Achmad : 0896 1748 4158

Alamat :
Jln. Rawa Bambu, Gedung ASOHI – Grand Pasar Minggu No.88 A, Jakarta Selatan 12520
Telp : 021-782 9689, Fax : 021-782 0408

No. Rek : PT Gallus Indonesia Utama
BCA : 733 030 1681
MANDIRI : 126 000 2074 119

Koleksi Buku GITAPustaka juga kini tersedia di BUKALAPAK (https://www.bukalapak.com/u/gitapustaka?from=dropdown)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>