Motivasi: Menjaga Keseimbangan

Motivasi

Menjaga Keseimbangan

Jika sesuatu bergerak semakin ke kanan, terjadi pergerakan ke kiri untuk menjaga titik keseimbangan.

Ketika industri obat semakin modern dengan teknologi canggih, apakah obat tradisional akan kehilangan konsumen? Ketika manusia modern menemukan teknologi musik yang tidak membutuhkan pemain musik dalam jumlah banyak, apakah musik klasik kehilangan peminatnya?
Bagaimana dengan rokok? Ketika rokok rendah nikotin makin gencar di pasaran, apakah rokok klasik dengan kadar nikotin tinggi akan kehilangan konsumen?
Jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah tidak. Fakta menunjukan, ketika sebuah industri mengarah ke suatu model tertentu, model yang berlawanan akan menemukan konsumen yang khas. Ketika industri obat makin canggih, konsumen obat tradisional justru semakin banyak. Ketika musik semakin modern, musik klasik juga semakin berkembang. Rokok dengan kadar nikotin rendah tidak menghilangkan rokok klasik yang dipersepsikan penggemar rokok sebagai ‘rokok yang sebenarnya’.
Musik tradisional yang “dilestarikan” dengan tidak dikembangkan ke arah modern akan cenderung punah. Seakan mati karena tidak ada pesaing. Itulah teori pendulum (bandul). Jika pendulum digerakkan ke kanan, ia bergerak ekstrim ke kiri saat dilepasakan. Gerak berlawanan terjadi untuk menjaga keseimbangan diri.
Munculnya media sosial yang membuat komunikasi lebih mudah antar berbagai wilayah tanpa harus bertatap muka, tidaklah mengurangi kegiatan silaturahmi secara tradisional alias kopi darat antar kelompok. Semakin ramai komunikasi via medsos, acara kopi darat justru semakin banyak. Jika kita bicara “cukup lewat medsos saja”, faktanya, pertemuan justru semakin sering digelar. Banyaknya kegiatan reuni antar-alumi sekolah justru terjadi ketika medsos semakin banyak digunakan.
Banyak orang berharap, ketika makin banyak orang bisa belanja secara online, jalanan akan sepi. Faktanya tidak demikian. Beli online adalah cara praktis. Namun, jalan-jalan ke mall tetap dibutuhkan sebagai cara untuk bersosialisasi. Lagi pula, semakin banyak belanja daring (online), semakin banyak kendaraan yang berseliweran untuk mengantar barang.
Ada kisah tentang seorang ayah yang mengajak anaknya pergi ke sebuah bank. Sang anak bertanya,”Kenapa kita harus repot-repot ke Bank? Ini membutuhkan waktu berjam-jam. Bukankah kita bisa melakukannya di rumah dengan online banking?”
Sang ayah tak langsung menjawab, tetapi justru balik bertanya, “Jika ayah melakukan itu, apakah ayah tidak perlu ke luar rumah?”
“Tentu saja,” jawab si anak. “Semua bisa dilakukan di rumah. Bahkan barang-barang kebutuhan rumah tanggga bisa dikirim sampai di depan pintu rumah saat ini,” kata anaknya yang gemar berbelanja online.
Sang ayah menghela napas dan berkata sambil tersenyum, “Sejak memasuki bank hari ini, ayah telah bertemu dengan 4 orang teman ayah. Ayah mengobrol sebentar dengan staf yang mengenalku dengan baik sekarang.”
“Inilah waktu bertemu teman yang aku butuhkan. Aku bersemangat dan bersiap-siap datang ke bank. Aku menyediakan cukup waktu, itu adalah sentuhan fisik yang aku idamkan,” tambahnya.
Ia melanjutkan,”Dua tahun lalu, waktu aku sakit, pemilik toko tempat aku biasa membeli buah datang menemuiku. Ia duduk di samping tempat tidurku dan menangis. Ketika Ibumu jatuh waktu berolahraga pagi, pemilik toko sembako dekat rumah melihatnya dan segera membawa mobilnya untuk mengantar ibumu ke rumah.”
“Apakah aku bisa mendapatkan sentuhan manusia seperti itu, jika semuanya dilakukan dengan online?”
“Mengapa aku dipaksa menginginkan semuanya dikirimkan kepadaku dan dipaksa untuk berinteraksi hanya dengan komputer?”
“Aku ingin mengenal orang yang berbincang denganku dan bukan hanya sebagai ‘penjual’. Ini akan menciptakan ikatan relasi antarmanusia. Apakah Amazon atau perusahaan jasa online lain juga bisa memberikan semua ini?” tanya sang ayah sambil menatap anaknya.
Sang anak hanya diam, tak sanggup untuk menjawab pertanyaan ayahnya.
Jika kita amati, saat transaksi jual-beli dilakukan serba online, toko tradisional tetap punya pengunjung. Tampaknya, Tuhan sudah mengatur agar di setiap ikhtiar manusia ada rezeki yang bisa diperoleh. Tuhan membuat semua yang ada di alam bergerak agar seimbang, seperti keseimbangan gerakan pendulum. ***

Sumber : Buku MENGGALI BERLIAN DI KEBUN SENDIRI -Bambang Suharno

Harga buku : Rp. 90.000 belum termasuk ongkir.

Pesan buku Hubungi:

Wawan : 0856 8800 752
Aris : 0856 1555 433
Achmad : 0896 1748 4158

Alamat :
Jln. Rawa Bambu, Gedung ASOHI – Grand Pasar Minggu No.88 A, Jakarta Selatan 12520
Telp : 021-782 9689, Fax : 021-782 0408

No. Rek : PT Gallus Indonesia Utama
BCA : 733 030 1681
MANDIRI : 126 000 2074 119

Koleksi Buku GITAPustaka juga kini tersedia di BUKALAPAK (https://www.bukalapak.com/u/gitapustaka?from=dropdown)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>